Translate

Senin, 30 November 2015



        Ancories adalah grup band indie warga eskada. pelafalan grup ini adalah ansories, dibentuk di dalam kelas angkatan sembilan tkj. Dimana grup ini pertama dibentuk pada tanggal 19 oktober yang bernama the AZTECH, yang beranggotakan Fuad, Exo, Fakhrul, Hasim, dan vokalis yang selelu berganti ganti. Tak lama setelah itu, grup ini berganti nama coro band bersamaan dengan masuknya vokalis bernama Maya, namun sangat disayangkan belum ada satu minggu band ini berganti nama, band ini telah banyak dikecam karena nama yang terlalu jelek. Coro dalam bahasa indonesia berartikan kecoak. Namun anggota ansories yang banyak akal, mereka menggunakan nama sementara sembari membuat nama tetap yaitu, Domestic. Bersmaan dengan ulangan akhir semester dibuat nama baru ansories yang berlaku hingga sekarang. Grup ini bertujuan untuk mengembangan pengetahuan akan seni musik di kalangan pelajar, khususnya tkj.

kabarnya grup ini membuka pendataran anggota baru, jika anda berminat silahkan mengisi form pada link dibawah ini
https://docs.google.com/forms/d/14zYK1Q5m3j_0iw4y-KTQagRbh_5ddmqQwCUhjfIONTw/viewform?usp=send_form

untuk info yang kurang jelas bisa ditanyakan ke 085732742076(fakhrul) atau menemui langsung kantornya 10TKJ

Jumat, 16 Oktober 2015


Gunung Pegat Normal 0 false false false false EN-US X-NONE X-NONE

  NGETRIP GUNUNG PEGAT

 Hari selasa tanggal 13 bulan oktober 2015, untuk pertama kalinya saya mendaki gunung, makan dan minum seadanya, tidur outdor. Hari ini sekitar pukul 4 sore. Saya melakukan persiapan untuk mendaki gunung atau bisa disebut bukit, karena ketinggianya yang enggak tinggi tinggi amat.
hal hal yang perlu diperhatikan saat mendaki gunung (bagi saya):
-          Sepatu yang kuat dan pas dengan postur kaki yang pasti lentur dan kesat
-          Pakaian yang tidak terlalu ketat juga tidak terlalu longgar
-          Minum air mineral tidak terlalu banyak
-          Bawa keperluan pribadi:
-          Senter
-          Pisau
-          Tali
-          Mie instan
-          Panci
-          Piring
-          Sendok
-          Korek
-          Jaket
-          Kantong tidur
Setelah semua siap, saya segera menuju ke sekolah saya untuk menunggu anggota lainnya datang. Namun ternyata, tidak semua berkumpul di sekolah melainkan di rumah mas krisinda(XII TKJ). Disana saya menemui mas krisinda dan mas ekik, selang beberapa menit datang mbak sulis dan beberapa temannya yang saya tidak tau namanya. Jadi seluruh anggota yang datang ada 14 orang:
-          Krisnanda/mblondot(XII TKJ)
-          Ekik/ecil(XII TKJ)
-          Ryan/kajirun(XII TKJ)
-          Fain A’A Slamet(XII TKJ)
-          OM(XII TKJ)
-          Aldi(X TKJ)
-          Sulis(XI)
-          Teman mas ekik(SMKN1)
-          Singgih/ciko(X PM 3)
-          Lailia(XI)
Dan yang 4 lainnya saya tidak tau namanya.
            Waktu menunjukan pukul 18.00WIB, kami berangkat dari kediaman mas kris menuju ke kediaman Bpk/Ibu RT yang paling dekat dengan gunung pegat. Tidak lupa membawa tenda dan keperluan kelompok lainnya. Kami berangkat menggunakan sepeda motor melalui jalan yang sedikit berlubang. Entah berapa menit kami OTW, saya tidak sempat melihat jam karena saya yang menyetir sepeda motor. Oke singkat cerita setelah kami sampai kami langsung menemui Bpk/Ibu RT, berdoa, dan berangkat mendaki gunung. Medan mendaki yang tidak terlalu curam, namun karena struktur tanah yang kering dan berpasir, kami sempat beberapa kali terpeleset karena kurang tepat memijakan kaki pada tanah. Tidak sampai satu jam kami mendaki akhirnya
sampai di puncak gunung pegat.
Berikut beberapa foto yang sempat saya ambil:



            Harap maklum ini motret pakai kamera SAMSUNG YOUNG jadul yang Cuma 3 megapixel.

            Pemandangan sekitar gunung pegat di malam hari, foto pertama terlihat seperti sesosok makhluk yang sedang lewat, xixixi yang bener aja. Ya boleh percaya boleh tidak

Harap maklum ini motret pakai kamera SAMSUNG YOUNG jadul yang Cuma 3 megapixel.


Harap maklum ini motret pakai kamera SAMSUNG YOUNG jadul yang Cuma 3 megapixel.

Harap maklum ini motret pakai kamera SAMSUNG YOUNG jadul yang Cuma 3 megapixel.

            Mas ekik, krisnanda dan fain.sedang menyambung tiang yang akan digunakan untuk mendirikan tenda, maaf saya fotonya dari dekat kalau dari jauh gk kelihatan, Cuma gelap doing.

            Sekitar pukul 21.00WIB, tenda selesai didirikan, mbak sulis dkknya menyiapkan makan malam untuk kami santap malam ini, ya walaupun sepiring berdua, tapi tak apa lah ya. Oke, selesai makan kami menyalakan api unggun agar supaya saat tidur nanti tidak ada nyamuk + kedinginan. Waktu menunjukan pukul 00.00WIB, saya terbangun dari tidur saya, saya kedinginan karena memang anggota laki laki tidur diluar tenda. Beberap menit kemudian saya tidur lagi, sampai waktu menunjukan pukul 2 dini hari. Api unggun mulai padam, hawa dingin menyelimuti tubuh saya, dan tiba tiba, saya mendengar suara yang mungkin itu suara burung besar yang terbang, tepat diatas saya. Namun karena kondisi yang gelap, saya sedikit kesulitan melihat objek bergerak secepat itu, selang beberapa menit saya mencoba untuk tidur, namun tetap saja saya mendengar suara itu lagi, ditambah suara langkah kaki yang mengingatkan saya bahwa malam itu adalah malam suro. Dalam ilmu jawa di malam suro maupun hari yang dinamai suro, kita dilarang untuk pergi jauh keluar rumah, ya mungkin biar enggak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
            Dipagi hari ini sebuah anugrah bagi kami, karena  tidak ada kendala atau  musibah yang terjadi malam itu. Berikut dua foto yang saya ambil sebelum sarapan:
 





            Setelah sarapan, sekitar pukul 8 pagi, kami berkemas, dan berdoa, agar perjalan pulang nanti selamat sampai tujuan. Oke selesai berkemas, kami langsung menuruni gunung, sebelum menuruni gunung tak lupa kami sempatkan untuk berfoto bersama(sory fotonya make hp saya). Kami menemui sekumpulan “bocah bocah sedikit bermasalah”, kejadian ini tidak perlu saya ceritakan.     


 Sekitar 30menit kami menuruni gunung akhirnya kami sampai di kediaman Bpk/Ib RT, dan mengambil kendaraan yang kemarin kami titipkan ke beliau.

Sebelum pulang ke rumah beberapa dari kami ada yang langsung pulang, dan ada yang mampir untuk berenang plus membersihkan tenda, sebenarnya tendanya enggak terlalu kotor, tapi karna kami juga ingin bermain air. Setelah kedinginan bermain air, kamipun saling berfoto dan berpamitan untuk pulang ke rumah masing masing.



Rabu, 14 Oktober 2015

LONTARAQ DAN AKSARA LONTARA, SULAWESI SELATAN


     Lontaraq adalah sebutan naskah bagi rakyat Sulawesi Selatan. Kata ini diambil dari bahasa Jawa/Melayu yaitu lontar atau palem tal (Borassus flabellifer). Dengan begitu, lontaraq adalah naskah yang ditulis pada daun tal, tradisi yang juga dilakukan oleh orang Sunda, Jawa, dan Bali dalam menulis naskah rontal mereka. Ada pula yang berpendapat bahwa secara etimologis kata lontarak terdiri dari dua kata: raung (daun) dan talak (lontar). Kata raung talak mengalami proses evolusi menjadi lontarak.
Ada sebuah lontaraq yang unik, mirip dengan pita atau kaset audio/video. Teksnya ditulis satu baris pada daun tal sempit yang digulung, hanya dapat dibaca bila gulungan diputar balik. Tulisan pada gulungan bergerak di depan mata pembaca, dari kiri ke kanan. Salah satu lontaraq gulung tersebut adalah La Galigo, sebuah epos asli masyarakat Bugis, diperkirakan ditulis pada abad ke-14, masa pra Islam. Karya sastra ini berjumlah 6.000 halaman, dengan metrum lima suku kata. Latar belakang kisah La Galigo ini berada di Luwu, kerajaan yang dianggap tempat kelahiran masyarakat Bugis. Berikut lontaraq La Galigo yang
digulung pada dua buah poros.

    Selain epos La Galigo, tulisan-tulisan kuno Bugis yang lain adalah kronik sejarah (attoriolong), nyanyian upacara keagamaan, hukum, catatan harian, silsilah (lontaraq pangngoriseng), kata bijak (pappaseng), cerita rakyat, dan syair pendek atau elong. Di samping itu, ada pula jenis toloq, yakni syair sejarah-kepahlawanan, di mana kisah kepahlawanan diceritakan dengan puitis, mirip La Galigo. Tulisan toloq sangata panjang, bisa mencapai ratusan halaman, dicirikan oleh penggunaan kosa kata kuno, metafora/khiasan, penggunaan matra delapan sukukata, dan heroik.
Sementara itu, tulisan yang ditemukan di Mandar kebanyakan berupa naskah hasil penulisan sejarah, kebiasaan setempat dan pengajaran adat (pappasang), kumpulan syair empat baris (kalindaqdaq), dan lagu asmara tradisional (tikapayo). Ada pun naskah-naskah kuno dari Makassar banyak mengandung peristiwa sejarah, seperti sejarah (patturioloang) Kerajaan Makassar, Gowa, dan Tallo; catatan harian (lontaraq bilang); serta silsilah keluarga.
Rupanya, tradisi catatan harian (lontaraq bilang) cukup memegang peranan penting dalam budaya tulis Sulawesi Selatan. Isinya segala peristiwa penting bagi kerajaan. Penulisnya adalah seseorang yang berpangkat tinggi. Ia menorehkan lidi dari ijuk kasar ke permukaan rontal.
Selain di lontaraq, naskah-naskah Sulawesi Selatan banyak ditulis pada kertas—hampir seluruhnya kertas Eropa. Biasa naskah kertas ini berasal dari abad ke-18.

Filosofi dan Sejarah Aksara Lontara


    Aksara Lontara (ada yang menyebutnya Lontaraq atau Lontarak) ialah aksara asli masyarakat Bugis, Makassar, dan Mandar di Sulawesi Selatan. Sebetulnya masih ada huruf Makassar Kuno, yang usianya lebih tua dari aksara Lontara. Namun yang kemudian lestari adalah Lontara. Ada yang berpendapat, bahwa Lontara ini berbeda dengan aksara-aksara lain di Indonesia seperti aksara Bali, Jawa, Lampung, Sunda, yang oleh sebagian besar filolog dikaitkan dengan aksara Pallawa dari India. Aksara Lontara ini tidak dipengaruhi budaya lain, termasuk india. Namun ada pula yang berpendapat bahwa aksara ini merupakan turunan dari Pallwa. Selain aksara sendiri, masyarakat Bugis menggunakan dialek sendiri yang dikenal dengan “bahasa Ugi”. Sementara itu, suku lainnya di Sulawesi Selatan yaitu Saqdan Toraja, tak memiliki tradisi menulis, hanya memiliki tradisi lisan.
 Bentuk aksara Lontara, menurut budayawan Prof Mattulada, berasal dari “sulapa eppa wala suji”. Wala berarti “pemisah/pagar/penjaga”, dan suji yang berarti “putri”. Wala suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa eppa, berarti “empat sisi”, merupakan bentuk mistik kepercayaan Bugis-Makassar klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni api-air-angin-tanah. Maka darki itu, bentuk aksara Lontara sendiri berbentuk segi empat (belah ketupat). Hal ini didasari pemahaman filosofis kultural masyarakat Makassar bahwa kejadian manusia berasal dari empat unsur, yaitu butta (tanah), pepek (api), jeknek (air), dan (anging) angin.
Menurut sejarah, aksara Lontara diperkenalkan oleh Sabannarak atau Syahbandar Kerajaan Gowa yang bernama Daeng Pamatte. Ketika Kerajaan Gowa diperintah oleh Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manngutungi yang bergelar Karaeng Tumapakrisik Kallonna, Daeng Pamatte menjabati dua jabatan sekaligus yaitu Sabannarak merangkap Tumailalang (Menteri Urusan Istana dan Dalam Negeri). Pada waktu itu Karaeng Tumapakrisik Kallonna memberikan titah kepada Daeng Pamatte untuk menciptakan aksara yang dapat dipakai untuk tulis-menulis. Pada 1538, Daeng Pamatte berhasil mengarang aksara Lontara yang terdiri atas 18 huruf dan juga tulisan huruf Makassar Kuno. Akhirnya, aksara Lontara ini dipermoderen dan bentuknya lebih disederhanakan sehingga jumlah hurufnya menjadi 19, akibat masuknya pengaruh bahasa Arab.
Sistem Aksara Lontara
Aksara Lontara telah ada sejak abad ke-12. Aksara ini berjumlah 23 huruf  (termasuk bunyi konsonan dan vokal a) yang disusun berdasarkan aturan tersendiri. Dalam sistem aksara ini, dikenal penanda vokal untuk u, e, o, ae. Berikut tabel aksara Lontara:
Namun, aksara Lontara tidak mengenal hurup atau lambang untuk mematikan hurup misalnya sa menjadi s. Ketiadaan tanda-mati ini cukup membingungkan bila ingin menuliskan huruf mati. Juga, di banding aksara-aksara lain, aksara Lontara tak memiliki semua fonem. Beberapa huruf ditafsirkan secara teoretis dengan sembilan cara berbeda, dan ini juga kadang-kadang menimbulkan masalah bagi penafsiran pembaca. Maka dari itu, di masyarakat Bugis dikenal adanya elong maliung bettuanna, yakni nyanyian dengan makna tersembunyi. Misalnya kata buaja buluq (buaya gunung) merujuk pada macang (harimau). Ejaan macang sama dengan ejaan macca (pintar), yang menjadi makna turunan dari buaja buluq.

Senin, 12 Oktober 2015

Naskah Kuno Minangkabau

Opini Singgalang 22 Januari 2008

Oleh Fachrul Rasyid HF

Setelah rendang Minang dipatenkan sebagai makanan asli Malaysia, pada gilirannya naskah karya intlektual, termasuk karya satra lisan dan tulisan kuno Minang akan diklaim sebagai karya budaya Malaysia.

Kemungkinan cukup beralasan. Penelitian oleh Fakultas Sastra Universitas Andalas (Unand) menemukan bahwa sejak tahun 1984 silam beberapa naskah kuno Minang telah dicuri atau dibeli secara ilegal oleh peneliti Malaysia. Mereka datang sebagai wisatawan, lalu, keluar masuk kampung atau membelinya lewat pedagang barang antik di kota Padang, Bukittinggi, atau Batusangkar.

Naskah kuno mudah mereka dapatkan karena pewaris naskah seperti ahli waris syekh, ulama atau para penghulu adat yang berpengaruh di zamannya jarang yang tahu apa isi, manfaat atau kegunaan nasakah tersebut. Kadang dianggap barang terbuang. Kalaupun dipelihara lebih karena benda pusaka atau dianggap punya kekuatan magis.

Harga naskah tergantung sejauh mana barang itu dihargai dan dipelihara pemegangnya. Atau tergantung jumlah lembaran nasakh. Ada yang dihargai Rp 3 juta per naskah dan ada yang ditawar sampai Rp 150 juta, untuk 30 lembar naskah. Naskah kuno karya tangan itu berhuruf Arab, sebagian berbahasa Melayu dan Arab, dibuat sekitar abad 17 dan ke 18.

Menurut M. Yusuf, dosen Fakultas Sastra Unand beberapa yang sudah berpindah tangan adalah naskah Ilmu Tata Bahasa Arab (Nahu dan Sharaf), Ilmu Fikih dan Ilmu Thariqah. Kemudian pepatah petitih, atau pribahasa Minang, pantun, dan hikayat-hikayat. Sebagian sudah dialihbahasakan ke bahasa Melayu Malaysia.

Juga naskah kuno iluminasi berisikan berbagai lukisan dan gambar hiasan pinggir buku.

Naskah kuno Undang-Undang Minangkabau, berisi aturan bermasyarakat di Minangkabau, misalnya dibeli peneleiti Malaysia dari seseorang di Kelurahan Balaigurah, Bukittinggi, tahun 1984. Kemudian diubah ke tulisan Latin oleh Prof. Dr. Umar Yunus, guru besar ilmu sastra University Malaya, asal Silungkang Sumatera Barat. Kini naskah itu sudah jadi koleksi Perpustakaan Nasional Malaysia.

Padahal naskah kuno itu sangat besar artinya. Selain jadi rujukan nilai-nilai sosial adat budaya dan bukti sejarah Minang masa lalu, naskah kuno itu sekaligus membantah bahwa orang Minang yang selama ini dianggap cuma punya tradisi lisan, terbukti sudah memiliki tradisi menulis sejak berabad-abad silam.

Pertanyaan, kenapa Malayisa getol mengumpulkan naskah kuno Minangkabau atau daerah Melayu di Nusantara ini, tampaknya terkait ambisi menjadikan Malaysia sebagai pusat Melayu dan pusat Islam Asia Tenggara sejalan gerakan Dunia Melayu Dunia Islam. Sehingga akhirnya, siapapun yang mau belajar Islam dan Melayu harus belajar di Malasyia.

Dan, orang Minang yang mau belajar tentang Minangkabau, seperti yang dilakukan sejumlah mahasiswa dari Sumatera Barat beberapa tahun belakangan, tentu juga harus belajar ke Malaysia.

Tampaknya Pemda, DPRD provinsi dan kabupaten kota serta masyarakat Minang di kampung atau di rantau, perlu segera mengambil langkah melindungi naskah-nasakh tersebut. Jika tidak, Minangkabau akan kehilangan refrensi tentang masa lalu dan tentang budayanya sendiri.

Kekhawatiran itu kini sudah di depan mata. Menurut Yusuf, kini sebanyak 371 manuskrip Minangkabau sudah berada di luar Sumatera Barat. Antara lain, 261 berada di Belanda, 12 naskah di Inggris, 19 naskah di Jerman Barat. Sebanyak 78 naskah berada di Perpustakaan Nasional di Jakarta.

Beberapa yang tersisa di tangan penduduk, diperebutkan Fakultas Sastra Universitas Andalas, Museum Daerah dan pemburu dari Malaysia itu. Fakultas Sastra dan museum tampaknya kalah kuat karena keterbatasan dana. Artinya, jika orang Minang terlambat bertindak, bukan mustahil Minangkabau akhirnya hanya tinggal cangkang yang telah ditinggalkan siput penghuninya. (*)

Naskah Kuno Riau (yang katanya diklaim negara lain)






Dalam pengertian sempit, naskah sering dianggap hanya karya tulis yang belum dicetak atau diterbitkan. Yang dimaksud dengan nas­­kah kuno dalam tulisan ini, selain karya tulis dalam bentuk tu­lisan tangan, juga karya tulis dalam bentuk lain, seperti yang diketik, disalin, atau diterbitkan. Pemberian batas waktu untuk mengkategorikan se­suatu itu sudah kuno atau belum ada­lah suatu hal yang tidak mudah. Demikian pula halnya dengan naskah kuno daerah Riau. Walau de­mi­ki­an, ada beberapa segi yang diperhatikan untuk melaku­kan pi­lihan kasar antara yang kuno dengan yang baru.
Pertama, dari segi waktu. Naskah-naskah kuno Riau boleh di­ka­takan berusia antara 25–100 tahun. Naskah tertua tampaknya ber­asal dari abad ke-19, yaitu tahun 1800-an, disusul oleh naskah se­­­perempat pertama abad ke-20, terutama yang berasal dari tahun 1920-an. Se­telah itu masih ada sejumlah naskah yang berasal dari tahun 1930-an sampai mendekati tahun 1950-an.
Kedua, dari segi tulisan yang dipakai. Naskah kuno Riau yang ber­­asal dari para cendekiawan Riau berawal dari pemakaian huruf Arab-Melayu. Perkembangan pemakaian huruf oleh para penulis cu­kup menarik. Setelah mereka mempergunakan huruf Arab-Me­layu atau huruf Jawi, maka para penulis memakai huruf Latin. Pe­makaian huruf Arab-Melayu ten­tu menjadi bukti bahwa para cen­dekiawan Riau mem­punyai hubungan yang begitu erat dengan agama Islam. Se­bagian besar dari mereka belajar melalui madrasah atau cara berguru tradisional, baik secara individu dengan cara muzakarah pada masjid-masjid, maupun tempat pertemuan lain­nya. Pema­kaian huruf Arab-Melayu merupakan pengaruh dari pertemuan budaya Islam dengan dunia Melayu yang memberikan semacam modifikasi kebudayaan. Se­jak huruf ini menjadi alat ke­budayaan Melayu, pemberantasan buta huruf dilakukan dengan mempergunakan huruf Arab-Melayu sebagai pelajaran membaca dan menulis.
Para penulis Riau tidak begitu saja meninggalkan huruf Arab-Me­layu dalam kegiatan penulisan mereka. Huruf Arab-Melayu kemudian dipakai secara penuh, seperti dalam masa karya-karya Raja Ali Haji. Naskah-naskah yang mempergunakan huruf Arab-Melayu dan angka-angka Arab orisinil antara lain Kanun Kerajaan Riau Lingga, Bustan Al Katibin, serta Salasilah Melayu dan Bugis karya Raja Ali Haji; Syair Abdul Muluk yang diperkirakan merupakan karya Raja Zaleha dan Raja Ali Haji; Bughyat al ‘Ani Fi Huruf Al Mani karya Raja Ali Kelana. Dalam bentuk yang dicetak, tentu saja berkaitan dengan teknologi mesin cetak, penulisan naskah mempergunakan huruf Latin. Jika di­per­hatikan perkembangan pe­makaian huruf ter­sebut dalam naskah kuno Riau, maka naskah kuno Riau juga memberikan gambaran per­kembangan budaya teknologi.
 Sesudah periode huruf Arab-Melayu dengan angka Arab tersebut, naskah-naskah kuno Riau masih memakai huruf yang sama, tetapi ang­ka-angka Arab tidak lagi seperti angka Arab orisinil (se­perti angka-angka untuk halaman Al Quran), namun telah dimo­difikasi menjadi 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 0. Dalam keadaan ini, tulisan yang dipakai tetap tulisan Arab-Melayu, tetapi halaman-halaman kitab atau naskah mempergunakan angka Arab dengan modifikasi Latin. Naskah-naskah ter­sebut antara lain Babal Qawaid; Syair Sahimsah terjemahan Raja Haji Abdullah; Undang-undang Polisi Kerajaan Riau-Lingga; Kisah Iblis Menghadap Nabi Muhammad karya Muhammad bin Haji Mu­ham­mad Said.